Jendral Djoko Koleksi Keris Untuk Gaet Cewek ?

Kumpulkan 200 Keris Keramat.1 Keris seharga Rp 1,7 Miliar

joko sNONSTOP, JIMAT-Irjen Pol Djoko Susilo memiliki sekitar 200 keris pusaka. Keris-keris bernilai miliaran itu dicuci setiap tanggal 1 Suro, dan diyakini memiliki kekuatan magis, khususnya untuk menggaet wanita-wanita yang disukainya. Terungkapnya kepemilikan keris itu dari mulut seorang saksi di sidang lanjutan kasus korupsi proyek pengadaan alat simulator SIM di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (16/7), yang menempatkan mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri itu sebagai terdakwa. Indra Jaya, kolektor keris mengatakan, keris-keris keramat itu dititipkan Djoko kepadanya. “Saya tidak ingat jumlahnya berapa. Sekitar 200-an,” kata Indra Jaya. Tidak hanya dititipkan kepadanya, dia juga harus memandikan keris tersebut setiap malam 1 Suro. Apakah Djoko Susilo pernah meminta permintaan khusus kepadanya terkait dengan “kesaktian” keris-keris tersebut, Indra enggan menjelaskan. Lanjutnya, ia mengenal Djoko Susilo saat masih aktif di Kodam Brawijaya, Surabaya, tahun 1998. Dirinya bertemu dengan Djoko di kediaman Kapolri saat itu, Jenderal Pol (purn) Roesmanhadi. “Saya dikenalkan oleh Lettu Widodo ke Djoko. Setelah perkenalan itu, berlanjut ke pertemuan berikutnya,” tuturnya. Kesenangan Djoko Susilo terhadap keris sangat besar. Buktinya, dia rela menukar rumah seharga Rp 1,7 miliar dengan sebuah keris. “Dia pernah menukar keris dengan sebuah rumah di Pesona Khayangan Depok. Saya tidak bohong,” ungkap Indra. Tidak hanya mendapatkan rumah tersebut, karena sudah mau menukarkan keris, dirinya juga mendapat bonus dari Djoko Susilo sebesar Rp 150 juta. Paranormal Permadi mengatakan, untuk memiliki keris-keris pusaka atau bertuah tidak mudah. Menurutnya, setiap keris harus cocok-cocokan dengan perilaku pemiliknya. Apa khasiat dan kegunaan keris tersebut? Menurut Permadi tergantung dari keinginan si pemiliknya. “Bisa untuk mencari harta, bisa juga mendapatkan perempuan,” tuturnya. Apakah keris Djoko Susilo dapat digunakan untuk memikat perempuan, karena sang jenderal memiliki tiga istri, dan yang termuda bernama Dipta Anindita, mantan Putri Solo yang memiliki paras wajah yang cantik. “Bisa jadi untuk itu (perempuan). Tapi harus diingat, jika berlebihan keris itu bisa menjerumuskan pemegangnya. Selain itu, dia (Djoko Susilo) juga banyak uang sehingga perempuan mau saja dikawini sama dia,” kata Permadi berkelakar. Sementara itu, paranormal Ki Joko Bodo mengatakan, keris-keris yang dimiliki Djoko Susilo menggambarkan watak pemegangnya. “Keris itu identik dengan pemegangnya. Suka perempuan atau harta, bisa juga keduanya,” kata Joko Bodo saat dihubungi melalui telepon. Lanjut Ki Joko, seharusnya para pemegang keris harus bersikap bijaksana, dan memperlakukan benda itu dengan baik. Karena jika serakah akan dapat membawa petaka. “Mungkin saja terkuaknya kasus korupsi yang menjerat Djoko Susilo karena keserakahan,” tandasnya. Comblang Dibelikan Rumah Tidak hanya rela mengeluarkan duit dalam jumlah besar untuk mendapatkan keris. Djoko Susilo juga kerap memberi hadiah kepada orang-orang yang telah membantunya. Salah satunya Ledy Diah Hapsari. Ledy mengaku dibelikan rumah oleh Djoko di Jalan Lompo Batang Tengah III, No. 20, Mojosongo, Surakarta, karena telah mengenalkan sang jenderal dengan istri termudanya, Dipta Anindita. Perkenalan itu katanya tidak direncanakan. Diceritakannya, dia pernah mengajak Dipta ke kantor Djoko untuk menunjukkan desain batik yang dipesan jenderal bintang dua tersebut. Saat itulah, Djoko kesensem dengan Dipta. Hal itu diungkapkan Ledy saat bersaksi di persidangan Tipikor kemarin. “Saya mengenal Pak Djoko dua tahun lalu. Saat itu dia langganan baju batik yang saya jual,” jelasnya. Kapan rumah tersebut diberikan kepadanya, Ledy mengatakan di tahun 2010, atau dua tahun setelah Djoko Susilo menikahi Dipta. Persidangan kali ini seharusnya juga menghadirkan dua istri Djoko Susilo, yakni istri keduanya Mahdiana, dan istri ketiganya Dipta Anindita. Namun, keduanya tidak hadir dengan alasan belum diketahui. Selain Mahdiana dan Dipta, mantan anggota DPR Muh Nazaruddin juga tidak hadir untuk dimintai kesaksiannya dengan alasan sakit. Bekas anggota Partai Demokrat itu diduga mengetahui aliran dana hasil korupsi hasil proyek pengadaan alat simulator SIM di Polri. Jaksa hanya berhasil menghadirkan delapan saksi saja, yakni Irawan, Dewi Eka Koreati, I Wayan Nama, I Gusti Diatmika, Toto Susmono Hadi, Lady Diah Hapsari, dan ayahnya Dipta, Djoko Waskito. Di persidangan itu juga terungkap bahwa istri kedua Djoko Susilo memiliki tanah seluas 7.515 m2 di Kabupaten Tabanan dan Badung, Bali. Tanah itu kemudian dijual kepada I Wayan Nama dengan harga Rp 4,3 miliar pada tahun 2012. “Dia menawarkan ke saya dengan harga Rp 5 miliar. Hasil negoisasi akhirnya disepakati Rp 4,3 miliar,” kata Wayan. Sedangkan pengusaha semen asal Solo, Irwan mengaku pernah hendak membeli rumah milik Mahdiana seharga Rp 7 miliar yang terletak di Jalan Durian, Jakarta Selatan. Namun entah kenapa, tiba-tiba wanita itu membatalkannya, dan sampai sekarang ini tidak mengembalikan uang muka yang sudah diberikannya sebesar Rp 2 miliar. “Seminggu setelah membuat akta jual belu, Bu Mahdiana menghubungi saya untuk membatalkan penjualan,” ujarnya. Karena ingin mendapat penjelasan yang lebih detil, Irawan minta bertemu. Keduanya kemudian bertemu pada 13 Januari 2013 di Hotel Mulia, Senayan. Saat itu Mahdiana mengaku sebagai istrinya Djoko Susilo. Nazar Batal Bersaksi Petugas KPK gagal membawa Muh Nazaruddin keluar dari Lapas Sukamiskin, Bandung, karena yang bersangkutan sedang sakit perut. Dengan begitu, ia batal hadir sebagai saksi kasus korupsi Djoko Susilo. “Nazar tidak jadi ke Jakarta. Dia sakit perut,” kata Kepala Lapas Sukamiskin, Giri Purbadi. Keterangan Nazar sangat diperlukan guna mengkonfirmasi pengakuan Kepala Panitia Lelang Pengadaan Simulator Alat SIM AKBP, AKBP Teddy Rusmawan, perihal setoran duit Rp 4 miliar ke anggota Badan Anggaran DPR. Teddy pernah menyebutkan uang sebesar itu diberikan kepada Badan Anggaran DPR melalui salah satu anggotanya, yaitu Nazaruddin. Uang itu berasal dari kas Primer Koperasi Polisi (Primkoppol) yang dipinjam Djoko Susilo. “Uang sebesar Rp 4 miliar itu dipinjam pada 21 September 2010 dari Primkoppol,” kata Teddy saat bersaksi dalam sidang dugaan korupsi simulator SIM di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 28 Mei 2013 lalu. Lanjut Teddy, uang itu kemudian dibungkus dan diserahkan kepada Nazar yang disebut-sebut sebagai koordinator Badan Anggaran DPR. Ketika menyerahkan uang itu, kata Teddy lagi, Nazar tidak sendiri. Ada beberapa anggota DPR lainnya yang ikut hadir, di antaranya Bambang Soesatyo, Azis Syamsuddin, Demon J Mahesa, dan Herman Hery. Untuk diketahui, keempat anggota DPR ini pernah bersama-sama dengan Nazaruddin bergabung di Komisi III yang mengawasi kinerja kepolisian. Saat dikonfirmasi, Azis, Herman, dan Bambang kompak membantah tudingan Nazar. Juru bicara KPK Johan Budi mengatakan, kehadiran Nazar di persidangan Djoko Susilo karena adanya indikasi keterlibatan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu dengan rangkaian besar kasus korupsi pengadaan alat simulator SIM ini.(OTK/DED)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Widgetized Section

Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Advertise Widget Zone