Pulpen Kamera Rekam Celana Dalam Di Busway

NONSTOP, BUSWAY-Sindikat perekam celana dalam (CD) wanita beredar di Busway. Para pelaku menggunakan pulpen berkamera untuk membidik korbannya.

Supriyanto (29) tidak bisa berbuat apa-apa ketika kepergok sedang merekam CD seorang wanita seksi di Halte Busway Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (4/12). Akibat aksi cabulnya itu warga Jalan Poncol, Gandaria, Cilandak, Jakarta Selatan ini digelandang ke Polres Jakarta Pusat.
Sementara korban yang diketahui inisial ATG warga Kalideres, Jakarta Barat terlihat shock. Saat dimintai keterangan oleh petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jakarta Pusat, karyawati yang bekerja di Bursa Eefek Indonesia (BEI) kawasan Sudirman ini mengaku, pagi jam tujuh dirinya sedang menunggu Busway di Halte Harmoni.
Saat sedang antre, tiba-tiba Supriyanto yang bergaya perlente dengan memakai celana jeans dan kemeja lengan panjang memepet sambil membungkukkan badannya. Saat Supriyanto, mengeluarkan pulpen berkamera itulah ATG sadar kalau CD-nya direkam.
Tanpa banyak tanya, ATG berteriak. “Saat pelaku merekam, korban teriak. Dan penumpang lainnya langsung menangkap pelaku,” ungkap petugas Polres Jakarta Pusat usai memeriksa ATG.
Adov (30) petugas Halte Busway Harmoni meyatakan, pelaku dengan gayanya yang perlente tidak mencurigakan akan bertindak asusila kepada penumpang perempuan. Namun ketika diam-diam dia mengeluarkan pulpen dan memasukkan di sela-sela rok penumpang wanita barulah ketahuan. “Pelaku nyaris dihakimi massa, tapi kami langsung membawanya ke polres,” ungkapnya.
Saat ditemui Nonstop, Supriyanto mengaku sebagai penumpang setia Busway. Pria berlogat Jawa Tengah ini mudah terangsang dengan bau parfum wanita. Apalagi wanita yang mengenakan rok mini. Saat akan naik Busway, Suprianto sudah mengicar ATG yang pagi itu sedang memakai rok mini.
Menurut Supriyanto, dirinya merekam CD penumpang Busway untuk dijadikan koleksi. Ia juga tidak membantah kalau aksi cabulnya itu bukan hanya dirinya tapi ada beberapa kawannya yang memang hobi merekam CD. “Setiap beraksi saya memakai tas selempang di depan. Dan ponsel itu untuk mengelabui jika korban tau saya sedang merekam,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, sebenrnya pulpen tersbut difasilitasi lampu. Tapi, kameranya tidak bagus jadi harus menggunakan ponsel. “Kalau kamera HP jelas dan pulpen ini sebagai penerang untuk merekam CD,” terangnya.
Sayangnya saat dihubungi soal adanya dugaan sindikat pulpen kamera di Busway, Humas Polda Metro Kombes Rikwanto mengaku masih mencari kebekaran informasi tersebut. Sementara Kepala BLU Trans Jakarta Muhammad Akbar berjanji akan menekan aksi pelecehan di Busway.
“Kita akan printahkan kepada petugas untuk terus mengurangi penumpang jika bus sudah penuh, ini salah satu pencegahan tindak asusila kepada penumpang perempuan,” terang Akbar.
Idiealnya kata dia, penumpang Busway yang ukuran sedang bermuatan 85 orang. Sedangkan untuk ukuran gandeng untuk muatan 160 orang. “Ini dibutuhkan kerjasama antara penumpang dan petugas untuk saling menjaga diri dan melindungi,” jelasnya.
Dan petugas Busway tambah Akbar, tetap waspada kepada penumpang yang mencurigakan. “Kita akan perketat penjagaan di dalam bus dan halte,” bebernya.
Anggota Komisi D DPRD DKI Sanusi mendesak agar tindakan pencabulan di dalam Busway bisa ditekan dengan ditambahnya pengamanan. “Sebenarnya Busway khusus perempuan sudah ada tapi tidak diatur dengan baik sama petugasnya,” tukasnya.
Bahkan kata Ketua Fraksi Partai Gerindra ini, dirinya pernah naik Busway perempuan. “Tapi tidak ditegur atau dilarang petugas. Harusnya dilarang karena Busway perempuan ya khusus untuk perempuan,” keluh Sanusi.
Sudah Dua Kali
Aksi Supriyanto bukan hanya sekali. Sebelumnya pria yang biasa disapa Supri ini juga sudah beraksi di Halte Busway Pulogadung, Jakarta Timur. Saat petugas menyita ponsel Supri ternyata ada film berdurasi sekitar tiga menit.
“Yang pertama di Pulogadung, saya khilaf mas. Tapi, kalau ngintip CD diangkot udah sering mas,” bebernya.
Data dari Pemprov DKI menyebutkan, pada 2011 terjadi sebanyak delapan kasus pelecehan seksual di Busway. Angka ini meningkat dibanding tahun 2010 yang hanya sebanyak empat kasus. Tapi, sayangnya banyak korban yang menjadi pelecehan tidak mau melapor ke petugas polisi.
Dwi Rio Sambodo DPRD DKI menambahkan, sebaiknya para penumpang Busway bisa saling melindungi. “Perlindungan perempuan harus dibarengi kebijakan tetang pemilahan pelayan publik antara perempuan dan pria. Ini harus direalisasi di berbagai sektor pelayanan publik,” pintanya.
Maraknya tindak pencabulan di Busway terang Dwi disebabkan karena minimnya jumlah bus yang ada. “Dengan diadakanya akan penambahan armada tahun depan (2013) tentu bisa menjadi solusi untuk mengurangi hal-hal tindak kejahatan,” ungkap anggota Komisi E dari Fraksi PDIP.
Penumpang Resah
Pengakuan Supri terkait kasus pulpen kamera membuat takut penumpang Busway khususnya para karyawati kantoran. “Saya jadi ngeri mas naik Busway,” ungkap Maya (30) karyawan di kawasan Buncit.
Hal senada diucapkan Inah (17) mahasiswi Trisakti. “Saya setiap hari naik Busway dari Blok M ke Grogol. Wah kalau sindikat pulpen tidak ditangkap bisa kacau,” tegasnya.
Tapi, mahasiswi Fakultas Hukum ini mempunyai trik jitu untuk menghindari aksi pelecehan. “Saya membawa jarum dan duduknya di kerumunan penumpang wanita. Jadi, kalau ada yang macam-macam saya tusuk jarum,” tendasnya sambil tertawa.
Ia berharap kepada Gubernur Jokowi agar pengamanan Busway bisa ditambah. “Agar pelaku pecehan takut untuk melakukan asusila,” terang Inah yang tinggal di kawasan Radio Dalam, Jaksel ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Widgetized Section

Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Advertise Widget Zone